Jumat, 18 Desember 2015

DESA WISATA TURGO

Desa Wisata Turgo adalah desa wisata tertinggi di propensi D.I. Yogyakarta, berada di sisi barat kawasan wisata kaliurang yang dipisahkan oleh lembah sungai Boyong.
Nuansa dataran tinggi lereng gunung Merapi merupakan daya tarik utama desa wisata ini, udara yang sejuk, pepohonan khas pegunungan, hewan liar seperti aneka ragam burung dan tentunya pemandangan Gunung Merapi.
Desa wisata ini dikelola cukup baik dengan berbagai paketan wisata, salah satunya adalah tracking atau jelajah alam yang merupakan napak tilas letusan Merapi tahun 2010, melihat langsung tempat bekas letusan. Jelajah alam dipandu oleh pemandu lokal yang sangat berpengalaman, selain terlatih dengan prosedur formal pemandu merupakan masyarakat setempat yang mengenal betul lokasi Merapi.
Tawaran wisata lain yang menarik adalah ditujukan untuk para siswa yaitu wisata pendidikan lingkungan. Mengenal berbagai macam tanaman sayuran, buah-buahan lokal, obat/jamu, anggrek dan beberapa jenis fauna serta belajar memproses daun teh menjadi minuman.
Bagi Anda yang ingin menikmati suasana di malam hari, di desa ini juga terdapat pondokan yang bisa dipakai untuk menginap. Tersedia pula balai pertemuan untuk kegiatan rombongan. 
Saya dan keluarga sangat berkesan sekali mengunjungi dan menginap di tempat ini, kami menghabiskan waktu berkualitas bersama, tracking, jalan pagi, dankegianatn lainnya.


JELAJAH CAFE "ESCO RESTOURANT"

Location
Esco Restaurant
Jl. Pringgodani No. 14 Demangan Baru
Yogyakarta (150 meter selatan Apartemen Sejahtera)
Telp. 0813-1086-0354
Email : escoresto@gmail.com
Twitter : @escoresto
Instagram : @escorestaurant
Facebook : escorestaurantyogyakarta
Website : www.escoresto.com
Opening Hours
11:00 – 24:00 WIB

 Menu dan suasana resto ini terinspirasi dari  Zaman Rainessance dimana pertamakalinya ditemukan batu bata di Eropa, sehingga tempat ini dibuat dengan banyak sentuhan batu bata. Di tempat ini terdapat gabungan coffee shop dengan resto dengan suasana yang sama-sama cozy.  Menu disini terdapat aneka salad, soup, pasta, dan sandich. Untuk main course nya tersedia Baked beef rice, prawn-beef, salmon made in Esco, dll. Terdapat aneka minuman seperti aneka tea, squash, aneka coffee, dll. Harga makanan disini start Rp 20.000,- sampai Rp 45.000,-. Sedangkan untuk minuman start Rp 9.000,- sampai Rp 25.000,-.


MENGAPA ANAK SUKA MENGGIGIT

Ada beberapa alasan kenapa anak suka menggigit, seperti dikutip dari Pediatrics, Rabu (9/9/2009):
1. Dalam tahap eksplorasi.
Bayi dan anak yang baru bisa berjalan akan belajar melalui sentuhan, penciuman, apa yang didengar dan apa yang dirasakan. Jika orangtua memberikan suatu barang baru maka anak akan memasukkannya ke dalam mulut, hal ini biasa dilakukan oleh semua anak-anak. Dan kebiasaan tersebut biasanya terbawa hingga suka menggigit orang.
2. Jika ingin tumbuh gigi.
Anak usia 4 sampai 7 bulan merupakan usia seorang anak mulai tumbuh gigi. Gusi yang bengkak atau gatal akan memberikan perasaan tidak nyaman pada anak, sehingga anak akan mencari pelampiasan untuk terbebas dari perasaan tidak nyaman itu yang kadang obyek yang digunakannya adalah orang.
3. Karena ingin protes terhadap sesuatu.
Pada anak usia sekitar 12 bulan lebih akan mencari sesuatu yang menarik dan bisa membuatnya senang. Misalnya dengan memainkan sendok dan menjatuhkannya ke lantai atau membuang mainannya. Namun hal ini biasanya memicu kemarahan orangtua dan melarang hal tersebut. Untuk menunjukkan bentuk protesnya biasanya anak-anak akan menggigit orangtuanya atau berteriak dengan keras.
4. Mencari perhatian orang.
Saat anak berada pada situasi dimana anak-anak tersebut tidak menerima perhatian yang cukup, maka anak akan mencari cara agar diperhatikan oleh orang yaitu dengan cara menggigitnya. Karena anak percaya bahwa cara ini cukup efektif untuk bisa mendapatkan perhatian dari orang lain.
5. Meniru apa yang dilihatnya.
Anak-anak akan meniru apapun yang dilihatnya. Jika anak sering kali melihat tayangan atau kelakuan orang-orang yang suka menggigit, maka hal tersebut akan ditiru oleh anak. Karena anak-anak menganggap hal tersebut bukanlah sesuatu yang berbahaya.
6. Mau mendapatkan apa yang diinginkannya.
Anak-anak berusaha untuk bisa mewujudkan semua keinginannya dan anak percaya bahwa menggigit adalah cara yang paling efektif untuk bisa mengontrol yang lainnya. Seperti jika menginginkan mainan atau teman bermainnya pergi dan membiarkannya sendiri, menggigit adalah cara tercepat untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Untuk menghentikan kebiasaan tersebut tidak bisa dengan cara yang keras, karena jika anak semakin dimarahi maka anak akan membuat kebiasaan tersebut semakin menjadi-jadi. Cara yang paling efektif adalah dengan berbicara secara baik-baik, gunakanlah kata-kata yang positif dan persuasif sehingga anak mau mendengarkan.
Jika mencari perhatian adalah alasan utama anak suka menggigit, maka orangtua harus memberikan waktu yang lebih banyak bersama sang anak, bisa dengan membacakan buku cerita atau bermain bersama.
Salah satu kemungkinannya karena ia belum pandai bicara alias mengekspresikan keinginannya. Tapi bisa juga karena ia meniru seseorang.
“Tadi Mas Adit nggigit temannya lagi, Bu,” begitu lapor sang babysitter sepulang mereka main sore di taman. Ibu Adit yang mendapat laporan seperti itu, jadi marah, “Adit, Mama, kan, sudah bilang, tidak boleh mengigit!” Yang dimarahi cuma tertunduk lesu. Kenapa Adit punya kebiasaan menggigit? Menurut psikolog Dra. Ery Soekresno , perilaku itu merupakan suatu ekspresi emosi. “Anak tahu, kok, kalau ia menggigit, korbannya merasa sakit. Hanya saja, ia tak tahu harus berbuat apa. Nah, satu-satunya cara, ya , menggigit.” Halus kasar gigitannya, kata Ery, juga tergantung tingkat emosi anak. “Kalau dia jengkel betul, si korban bisa digigitnya sampai berdarah. Ia juga akan mencari tempat yang paling gampang untuk digigit seperti bahu atau pipi.”
Dikatakan sebagai ekspresi emosi, tambah Ery, karena si anak merasa jengkel, marah, atau frustrasi. Bisa juga karena ia perlu perhatian, capek, dan lainnya. Jadi, emosi yang diekspresikannya, bersifat negatif. Nah, karena ia masih kecil, belum pandai berkata-kata untuk mengungkapkan rasa tak enak dalam dirinya, “Ia pun menggigit sebagai cara yang paling cepat yang dilakukannya. Jadi, menggigit itu pun sebenarnya sebagai alat komunikasi pada anak.”
Selain itu, menggigit juga dijadikan sarana sebagai cara memecahkan masalah jika ia dalam keadaan terjepit. Saat sedang asyik main, misalnya, tiba-tiba mainannya direbut temannya. Karena marah dan tak tahu bagaimana cara mendapatkan mainannya kembali, si teman digigit agar mainannya lepas dari tangan si teman. Dengan kata lain, “Ia menggigit sebagai cara untuk mempertahankan diri,” jelas lulusan Fakultas Psikologi UI ini
Photo taken by : me
location : madrasah mu'allimaat muh YK

Kamis, 17 Desember 2015

RESENSI BUKU



Metadata buku
Judul                     : Islam ditinjau dari berbagai aspeknya
Pengarang          : Prof. DR. Harun Nasution
Penerbit              : Universitas Indonesia (UI-Press)
Halaman              : 125 halaman
ISBN                      : 979-8034-02-3 (jilid 1)
                                  979-8034-03-1 (jilid 2)

Pendahuluan
Di kalangan masyarakat Indonesia terdapat kesan bahwa Islam itu bersifat sempit. Kesan itu timbul dari salah pengertian tentang hakikat Islam. Kekeliruan paham ini terdapat bukan hanya di kalangan bukan umat islam, akan tetapi juga di kalangan umat islam sendiri, bahkan juga di kalangan sebagian agamawan-agamawan islam.
Kekeliruan paham itu terjadi karena kurikulum pendidikan agama islam yang banyak dipakai di Indonesia ditekankan pada pengajaran ibadah, fiqh, tauhid, tafsir, hadist dan bahasa arab. Oleh karena itu Islam di Indonesia banyak dikenal dari aspek ibadah, fiqh, dan tauhid saja. Dan itupun, ibadah, fiqh, dan tauhid biasanya diajarkan hanya menurut satu madzhab dan aliran saja. Hal ini member pengetahuan yang sempit tentang islam.
                Dalam islam sebenarnya terdapat  aspek-aspek selain dari yang tersebut diatas, seperti aspek teologi, aspek ajaran spiritual dan moral, aspek sejarah, aspek kebudayaan, aspek politik, aspek hukum, aspek lembaga-lembaga kemasyarakatan, aspek misticisme, dan tarekat, aspek falsafah, aspek ilmu pengetahuan, dan aspek pemikiran serta usaha-usaha pembaruan dalam islam.
               








BAB I
Agama dan pengertian agama dalam berbagai bentuknya
Agama mengandung arti ikatan-ikatan yang harus dipegang dan dipatuhi manusia. Ikatan ini mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari-hari. Ikatan itu berasal dari suatu kekuatan yang lebih tinggi dari manusia. Satu kekuatan gaib yang tak ditangkap dengan pancaindra.
Oleh karena itu agama diberi definisi-definisi sebagai berikut :
1.       Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengan kekuatan gaib yang harus dipatuhi.
2.       Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.
3.       Mengikatkan diri pada suatu bentuk hidup yang mengandung pengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia dan yang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.
4.       Kepercayaan pada suatu kekuatan gaib yang menimbulkan cara hidup tertentu
5.       Suatu system tingkah laku (code of conduct) yang berasal dari suatu kekuatan gaib.
6.       Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini bersumber pada suatu kekuatan gaib.
7.       Pemuja terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alam sekitar manusia
8.       Ajaran-ajaran  yang diwahyukan tuhan kepada manusia melalui seorang rasul
Agama-agama yang terdapat dalam masyarakat primitive ialah dinamisme, animisme, dan politeisme.
Agama dinamisme mengandung kepercayaan pada kekuatan gaib yang misterius. Animism adalah agama yang mengajarkan bahwa tiap-tiap benda, baik yang bernyawa maupun tidak bernyawa, mempunyai roh. Politeisme mengandung kepercayaan pada dewa-dewa.

BAB II
Islam dalam pengertian yang sebenarnya

                Islam adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan tuhan kepada masyarakat manusia melalui nabi Muhammad SAW. Jadi, islam berlainan dengan apa yang umum diketahui, bukan hanya mempunyai satu dua aspek, tetapi mempunyai berbagai aspek. Islam sebenarnya mempunyai aspek teologi,aspek ibadat, aspek moral, aspek mistisisme, aspek falsafah, aspek sejarah, apek kebudayaan dan lain sebagainya.

BAB III
Aspek ibadat, latihan spiritual dan ajaran moral

                Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan materil, sedangkan roh manusia, bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual. Dalam islam ibadatlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia itu. Semua ibadat yang ada dalam islam, salat, puasa, haji dan zakat, bertujuan membuat roh manusia supaya senantiasa tidak lupa tuhan,bahkan senantiasa tidak lupa pada tuhan, bahkan senantiasa dekat padaNya.

BAB IV
Aspek sejarah dan kebudayaan
               
                Dibagi menjadi beberapa tahapan 1. Periode klasik (650-1250M). Masa kemajuan islam I (650-1000M) ; khulafaurasyidin : Abu Bakar (632M), Umar Bin khattab (634-644M), Utsman bin affan (644-656M), Ali bin Abi Thalib (656-661M). Bani umaayah, Bani abbasiyah. Masa disintegrasi (1000-1250M).  2. Periode pertengahan (1250-1800M). Masa kemunduran I (1250-1500M), masa tiga kerajaan besar (1500-1800M). 3. Periode modern (1800M)

BAB V
Aspek politik

                Persoalan yang pertama-tama timbul dalam islam menurut sejarah bukanlah persoalan tentang keyakinan malahan persoalan politik. Politik nepotisme ini menimbulkan reaksi yang tidak menguntungkan, bagi kedudukan usman sebagai khalifah. Timbul tiga golongan politik, golongan ali yang dikenal dengan nama syiah, golongan yang keluar dari barisan ali yaitu kaum khawarij dan golongan muawiyah, yang kemudian membentuk dinasti bani umayah dan membawa system kerajaan dalam islam.

BAB VI
Lembaga-lembaga kemasyarakatan

                Islam dalam sejarah, seperti telah dilihat mengambil bentuk Negara. Sebagai Negara, islam sudah barang tentu harus mempunyai lembaga-lembaga kemasyarakatan, seperti pemerintahan, hukum, pengadilan, polisi, pertahanan, dan pendidikan. Lembaga yang erat hubungannya dengan urusan social dalam islam adalah wakaf.

BAB VII
Aspek hukum

                Hukum yang dipakai dalam islam berdasar pada wahyu. Ayat-ayat yang mengandung dasar hukum, baik mengenai ibadat maupun mengenai hidup kemasyarakatan, disebut ayat ahkam. Ayat-ayat ahkam dalam bentuk kedua inilah yang menjadi dasar bagi hukum yang dipakai untuk mengatur masyarakat dalam islam. Ayat ahkam mengenai perdagangan/perekonomian juga banyak, karena kemakmuran materil individu dan keluarga merupakan syarat yang penting pula bagi terwujudnya masyarakat yang baik. Sebagai dilihat ayat ahkam berjumlah sedikit dan tidak semua persoalan yang timbul dapat dikembalikan kepada al-qur’an atau sunnah nabi. Khalifah dan para sahabat mengadakan ijtihad pula. Tetapi turunnya wahyu telah berhenti dan tidak ada jalan untuk mengetahui benar atau tidaknya ijtihad yang dijalankan di periode ini. Untuk mengatasi masalah itu, dipakailah ijma’ atau konsensus sahabat.

BAB VIII
Aspek teologi
                                Pada suatu ketika wasil menyatakan suatu pendapat bahwa ia tidak setuju dengan paham, baik yang dimajukan oleh kaum khawarij maupun oleh kaum murji’ah. Berlawanan dengan kaum khawarij tetapi sesuai dengan kaum murji’ah. Wasil berpendapat bahwa orang islam yang berbuat dosa besar tidaklah kafir. Tetapi selanjutnya berlawanan dengan paham murji’ah orang demikian menurut pandangannya bukanlah orang mu’min. sebagai hasil dari kontak ini masuklah ke dalam islam paham qadariyah (free will dan free act) dan paham jabariyah atau fatalisme. Paham-paham yang dimajukan asy’ari kemudian mengambil bentuk aliran teologi yang dikenal dengan nama al-asy’ariyah. Diantara pemuka-pemuka al-asy’ariyah termasyhur terdapat nama-nama Abu bakar al-baqillani. Berbeda dengan aliran-aliran teologi lainnya aliran asy’ariyah dan aliran maturidiyah masih ada dan inilah pada umumnya yang dianut oleh umat islam sekarang. Aliran maturidiyah banyak dianut oleh pengikut-pengikut mazhab abu hanifah. Kedua aliran inilah yang disebut ahli sunnah. Tetapi dalam pada itu paham rasional yang dibawa oleh kaum mu’tazilah mulai timbul kembali diabad keduapuluh ini, terutama dikalangan kaum terpelajar islam. Tetapi bagaimanapun pengikut asy’ariyah jauh lebih banyak daripada pengikut aliran-aliran lainnya. Dalam teologi islam terdapat pula beberapa mazhab atau aliran. Aliran-aliran yang ada dan yang mulai timbul kembali ialah asy’ariyah, maturidiyah dan mu’tazilah

BAB IX
Aspek falsafat

                Pemikiran filosofis masuk ke dalam islam melalui filsafat yunani yang dijumpai ahli-ahli pikir islam di suria, Mesopotamia, Persia dan mesir. Kebudayaan dan filsafat yunani datang ke daerah-daerah itu dengan expansi Alexander yang agung ke timur di abad keempat sebelum kristus. Politik Alexander untuk menyatukan kebudayaan yunani dan kebudayaan Persia meninggalkan bekas besar di daerah-daerah yang pernah dikuasainya dan kemudian timbullah pusat-pusat kebudayaan Yunani di Timur, seperti Alexandria di mesir, Antioch di suria jundysyapur di Mesopotamia dan Bactra di Persia. Al-kindi bukan hanya filosof tetapi juga ilmuan yang menguasai ilmu-ilmu pengetahuan yang ada dizamannya. Al-kindi berpendapat bahwa antara falsafat dan agama tidak ada pertentangan. Ilmu tauhid dan ilmu teologi adalah cabang termulia dari falsafat. Falsafat membahas kebenaran atau hakikat. Filosof besar kedua ialah Abu nashr Muhammad ibn tarkhan ibn uzlagh al-farabi, anak seorang panglima perang dinasti samani yang dapat memperoleh kekuasaan otonom atas daerah transoxania. Kalau Al-kindi mendapat gelaran failasuf Al-arab, Al-farabi terkenal dengan nama Al-mu’allim Al-sani (guru kedua), Al-muallim Al-awwal (guru pertama) adalah aristoteles.

BAB X
Aspek mistisisme

                Sudah disebutkan bahwa ada segolongan umat islam yang belum merasa puas dengan pendekatan diri kepada tuhan melalui ibadat, sholat, puasa dan haji. Mereka ingin merasa lebih dekat lagi dengan tuhan. Jalan untuk itu diberikan oleh al-tasawuf. Al-tasawuf atau sufisme ialah istilah yang khusus dipakai untuk menggambarkan mistisisme dalam islam.
                Tujuan dari mistisisme, baik yang didalam maupun yang diluar islam, ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat tuhan. Intisari dari mistisime, termasuk dalamnya tassawuf, adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dengan Tuhan, dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran itu selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat sekali dengan tuhan dalam arti bersatu dengan tuhan yang dalam istilah arab disebut ittihad dan istilah inggris mystical union.

BAB XI
Aspek pembaharuan dalam islam

                Kata yang lebih dikenal dan lebih popular untuk pembaharuan ialah modernisasi. Modernisasi dalam hidup keagamaan di barat mempunyai tujuan untuk menyesuaikan ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama katolik dan protestan dengan ilmu pengetahuan dan falsafat modern. Aliran itu akhirnya membawa kepada sekularisme di barat. Perlu diingat bahwa ada ajaran-ajaran yang bersifat mutlak yang tak dapat diubah-ubah. Yang dapat diubah hanyalah ajaran-ajaran yang tidak bersifat mutlak, yaitu penafsiran atau interpretasi  dari ajaran-ajaran yang bersifat mutlak itu. Pembaharuan dapat dilakukan mengenai interpretasi atau penafsiran dalam aspek-aspek teologi, hukum, politik, dan seterusnya dan mengenai lembaga-lembaga.



Penutup
Setelah meninjau islam dari berbagai aspeknya dapatlah kiranya dirasakan ruang lingkup islam tidaklah sempit malahan luas sekali. Dan dapat pula kiranya dipahami bahwa kalau disebut islam, yang dimaksud islam bukanlah hanya ibadah, fiqh, tauhid, tafsir, hadis dan akhlak. Pengertian islam lebih luas dari itu, termasuk di dalamnya sejarah, peradaban, falsafat, mistisisme, teologi, hukum, lembaga-lembaga dan politik. 
Dalam garis besarnya apa yang terkandung dalam pengertian islam dapat dibagi ke dalam dua kelompok, kelompok ajara dan kelompok non-ajaran.







KISAH LAMA


Foto ini diambil saat saya duduk di bangku SMA tepatnya di gang Suronatan Yogyakarta. Disana saya menetap untuk menimba ilmu selama kurang lebih 6 tahun. Masing - masing dari kami harus tinggal di asrama yang telah disediakan guna memperlancar hubungan sosial antar siswi dimana seluruh siswi berasal dari daerah yang berbeda-beda. Tempat ini sangatlah berkesan bagi saya, karena setiap harinya teman - teman sayalah yang mewarnai hari saya. Mereka bukan hanya sekedar teman, namun sudah seperti keluarga. Bagaimana tidak jika setiap harinya kami harus menghabiskan waktu bersama. Loyalitas kami tidak perlu diragukan lagi, seringkali kami lebih mengedepankan kebersamaan dibandingkan urusan pribadi.
Walaupun kami telah berpisah, namun kami tetap menjalin komunikasi satu sama lain. Bahkan sampai sekarang bisa dikatakan saya telah ketergantungan dengan keberadaan mereka. Maksutnya saya masih belum bisa lepas dari teman SMA. Kenyataannya, sejauh apapun saya melangkahkan kaki, tempat kembali adalah teman semasa SMA.

Rabu, 16 Desember 2015

TRADISI KEBUDAYAAN MARPANGIR



MAKALAH 
SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM
Akulturasi kebudayaan islam marpangir
DOSEN PENGAMPU : Bpk  Suyanto, S.sos., M.si 
Di susun oleh :
Nur Alfi Hasanah                         15230057


KATA PENGANTAR



          Assalamu’alaikum wr.wb

Segala puji bagi Alloh SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya kepada kita sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
          Dalam makalah ini kami akan memberikan contoh akulturasi kebudayaan islam. Materi yang akan kami angkat disini ialah marpangir yaitu kebudayaan yang berasal dari Sumatra. Demikian makalah ini kami buat, kami sadar  bahwa dalam makalah ini masih banyak sekali kekurangan. Maka kritik dan saran yang membangun  demi kesempurnaan makalah sangat kami harapkan.   

Wassalamu’alaikum Wr. Wb


                                                                  



                   Yogyakarta, 22  November 2015
                                                                            
                                                                            
                                                                                         Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki kebudayaan, kebudayan itu bermacam-macam antara lain kebudayaan kesenian, kebudayaan keagamaan dan lain-lain. Seringkali terjadi akulturasi maupun asimilasi dari kebudayaan-kebudayaan yang ada. Tradisi-tradisi peninggalan sejak nenek moyang banyak yang masih dilakukan dizaman modern sekarang ini,salah satunya akan dibahas dalam makalah ini. Dalam makalah ini kami akan membahas tentang akulturasi kebudayaan islam. Marpangir merupakan kebudayaan atau tradisi mandi keramas yang dilakukan sehari sebelum bulan puasa yang dilakukan oleh orang-orang Sumatra yang bertujuan untuk menyambut bulan suci romadhon.
B.   Rumusan masalah
1.     Apa itu mandi marpangir?
2.     Bagaimana ritualnya?

C.   Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk memberikan iformasi kepada pembaca mengenai tradisi nenek moyang yang masih dijalankan oleh masyarakat Sumatra, yaitu marpangir.










BAB II
PEMBAHASAN
A.   Tradisi marpangir
Secara harfiah, marpangir merupakan tradisi mandi dan keramas (mencuci rambut) yang mempunyai makna pembersihan diri secara fisik dan batiniah, yang meskipun dilaksanakan berkaitan dengan momen keislaman, namun tidak ditemukan dalam ajaran para nabi. Ritual-ritual ini dianggap sebagai sisa-sisa dari kepercayaan Hindu, tepatnya tradisi yang dilaksanakan untuk menyucikan diri di Sungai Gangga, India. Akan tetapi dalam kepercayaan orang Jawa di Sumatera Utara, serta etnis lain yang menjalankannya, tradisi ini tidak dirujuk lagi sebagai tradisi yang berasal dari agama Hindu. Ini merupakan tradisi Islam yang terdapat pada beberapa etnik lain, yang membuat mereka mendapatkan kepuasan batin dan kenyamanan saat akan memasuki serta menjalankan ibadah di bulan Ramadhan. Sebuah tradisi yang tidak akan mudah dihilangkan. Tradisi “marpangir” (mandi pakai sejenis jeruk purut) sudah lama di kenal oleh masyarakat batak.   Hingga kini di daerah Sipirok tradisi marpangir masih dilakukan bahkan merupakan suatu ritual yang di umum dilakukan menjelang bulan puasa. Saudara kita yang muslim akan mandi marpangir bersama di batang aek.  Belakangan tradisi ini mulai di tinggalkan oleh beberapa orang batak toba, tidak jelas mulai kapan tradisi ini menjadi tidak populer, namun diduga karena tradisi marpangir dianggap bagian dari hasipelebeguon (kegelapan/animisme).
Konon para datu (dukun) selalu mensyarakatkan setiap pasiennya untuk marpangir, tentunya unte pangir yang dipakai mandi tersebut sudah harus di bawa ke dukun yang bersangkutan dan di bacakan mantera-mantera. Kemungkinan besar itulah yang membuat sebagian besar orang batak toba (kristen) menganggap marpangir menjadi bagian dari hasipelebeguon.
B.   Ritual marpangir
Mereka membersihkan tubuh dengan ramuan-ramuan khusus, membasuh rambut (keramas) sampai halus. Di beberapa tempat yang beruntung punya sungai bagus, dengan ramuan itu mereka bermaksud “menghanyutkan dosa-dosa” ke arah hilir, dan kini mereka telah siap untuk memasuki satu bulan suci dalam Islam, yaitu Ramadhan. Setiap menjelang bulan Ramadhan yang berarti kegiatan puasa akan tiba, kelompok-kelompok masyarakat yang beragama Islam di Sumatera melakukan tradisi persiapan lahir dan batin. Biasanya, dalam tradisi ini, terdapat beberapa ritual yang dilaksanakan secara berbeda—meskipun ada kaitannya--oleh etnis-etnis yang hidup di pulau ini.
Ritual tersebut antara lain, ziarah ke makam, mandi keramas, dan punggahan (naik ke bulan yang suci dengan kegiatan kenduri). Dari tiga tradisi tersebut, saya akan mengungkapkan latar budaya mandi keramas, khususnya yang berlangsung pada orang Jawa di Sumatera Utara, yang berbeda dengan tradisi asli di Jawa. Perbedaan ini memperlihatkan sifat adaptif budaya Jawa terhadap tradisi setempat tanpa menghilangkan ciri khas mereka sebagai orang Jawa yang sudah berdomisili di Sumatera sejak akhir abad 19.
Pada beberapa kelompok etnik di Sumatera Utara, terdapat istilah-istilah yang berbeda untuk menyebut ritual mandi keramas ini. Pada etnik Melayu Deli dan Mandailing, ritual mandi ini disebut dengan istilah ”marpangir” (selanjutnya kita akan mengunakan istilah ini). Pada kelompok etnik Minang dan Aceh Singkil, kegiatan yang sama disebut dengan istilah ”balimau”, dan etnik Melayu di Riau menyebutnya dengan ”balimau kasai”. Istilah penyebutan ini memiliki substansi yang sama, yaitu suatu ritual pembersihan diri dan biasanya dilakukan sehari menjelang puasa.
Uniknya, pada etnis Karo yang bukan Islam, kegiatan marpangir (mandi keramas) juga ditemukan. Mereka menyebutnya dengan ”erpangir ku lau”, yang juga bermakna pembersihan diri. Berbeda dari kelompok etnik Melayu, Mandailing dan Minang, marpangir bagi etnik Karo merupakan tradisi yang tidak ada hubungannya dengan penyambutan Ramadhan. Jika marpangir pada etnis Jawa, Melayu dan Mandailing merupakan ritual yang dilakukan secara individual, tetapi pada etnis Karo ritual ini dilakukan secara kolektif dan ada pemimpin ritualnya. Bagi etnis Karo, selain bertujuan membersihkan diri, mereka juga dapat melaksanakan ritual ini dalam rangka pengobatan atau penyembuhan penyakit, minta rezeki, penghormatan terhadap leluhur, dan bahkan untuk memanjatkan rasa syukur terhadap Tuhan yang Maha Esa.
Etnik Jawa di Sumatera Utara pun tidak menggunakan istilah khusus untuk menyebut istilah marpangir, dan mereka mengikuti penggunaan istilah yang digunakan oleh host population (etnik setempat) seperti Mandailing, Melayu dan Karo. Padahal di Jawa, daerah asal mereka, sesungguhnya terdapat istilah khusus untuk kegiatan ini, yaitu ”padusan”, yang berasal dari kata dasar ”adus” yang berarti “mandi”. Tetapi orang Jawa di Sumatera Utara tidak mempergunakan istilah padusan lagi.
Kata dasar ”marpangir” dan ”erpangir” adalah “pangir”, yaitu kata benda dari ramuan yang digunakan untuk mandi keramas. Ramuan pangir itu memiliki variasi antar satu tempat dengan tempat lain, dengan unsur-unsur seperti akar rusa, serai wangi, bunga pinang, daun pandan, daun nilam, buah dan daun jeruk purut serta batang kapellon yang mengandung unsur wewangian. Dengan demikian, balimau, balimau kasai, dan marpangir memiliki makna dan tujuan yang sama, yaitu mandi menjelang masuknya bulan Ramadhan serta ingin memperoleh keberkahan dari Tuhan yang Maha Esa.
Ritual yang berkaitan dengan penyambutan Ramadhan ini dijalankan secara lengkap oleh kelompok orang Jawa di Sumatera Utara. Selain marpangir, orang Jawa menjalankan ritual ziarah dan punggahan, yaitu upacara yang dijalankan secara kolektif dalam rangka mempersiapkan diri secara lahir dan batin. Ritual ziarah ke makam keluarga yang telah meninggal, marpangir dan punggahan merupakan upacara ritual yang biasanya dijalankan secara berurutan.
Dalam tradisi Jawa, ketiga aktivitas tersebut menjadi satu paket yang sudah menjadi tradisi turun temurun dalam rangka slametan (selamatan) yang berkaitan dengan tanggal-tanggal penting dalam kalender Islam. Masih ada jenis slametan lain di luar penyambutan Ramadhan. Sebagaimana dikatakan Geertz dalam bukunya ”Abangan, Santri, Priayi dalam Masyarakat Jawa” (1981), slametan yang dijalankan oleh orang Jawa terbagi dalam empat jenis, yaitu untuk menghormati sekitar krisis kehidupan (kelahiran, khitanan, perkawinan, dan kematian), merayakan sesuatu yang ada hubungannya dengan hari-hari Islam, integrasi sosial desa, dan slametan yang diselenggarakan dalam waktu tidak tetap.
Ziarah, marpangir dan punggahan dijalankan berdasarkan kepercayaan orang Jawa yang meyakini adanya integrasi masyarakat dengan alam adikodrati yang diwujudkan dalam bentuk penghormatan terhadap nenek moyang atau leluhur. Meskipun demikian, Islam tetap menjadi kekuatan dominan dalam setiap kegiatan ritual dan kepercayaan orang Jawa di Sumatera Utara. Dalam literatur antropologi, hal itu disebut Woodward (2006:10) sebagai Islam Jawa (dikategorikan sebagai abangan dan priyayi). Prinsip yang menjadi landasan bagi orang Jawa adalah untuk menciptakan keadaaan slamet, dengan menciptakan sesuatu yang selaras dengan alam. Untuk itu, selain berserah diri pada Tuhan yang Maha Esa secara Islam, juga diperlukan tindakan-tindakan khusus untuk mengintegrasikan manusia dengan alam adikodrati yang dalam hal ini adalah penghormatan terhadap nenek moyang. Marpangir, ziarah dan punggahan sesungguhnya tidak ditemukan dalam ajaran Islam.
Dalam antropologi (Koentjaraningrat, 1985:243), upacara-upacara ritual, baik secara kolektif maupun individual, pelaksanaannya harus memenuhi komponen tempat upacara, saat upacara, alat-alat upacara, dan orang-orang yang melakukan upacara. Benda dan alat-alat yang digunakan untuk melakukan marpangir tidak hanya dipilih karena menimbulkan aroma wewangian yang khas sehingga berdampak memberikan kesegaran bagi yang menggunakannya, tapi juga diyakini mengandung kekuatan penyucian diri. Ramuan-ramuan “pangir” dipadu dengan cara direbus bersama, kemudian diguyurkan dari ujung kepala hingga ke seluruh tubuh. Unsur-unsur seperti serai wangi, bunga pinang, daun pandan, daun nilam, buah dan daun jeruk purut, serta batang kapellon dianggap dapat menginterpretasikan keharuman untuk doa yang dipanjatkan.
Jeruk purut dipercaya sebagai benda yang ampuh untuk membersihkan atau menjauhkan dari dari gangguan makhluk-makhluk jahat. Jenis akar rusa melambangkan keteguhan hati, pertahanan, dan kekuatan, seperti akar yang mengikat pohonnya. Jadi, setiap bahan pangir adalah simbol dari harapan atau doa. Dari pendekatan logika, bahan-bahan khusus tersebut memang memancarkan keharuman yang dapat menenteramkan, menyejukkan, dan memulikan jiwa.
Berkaitan dengan kegiatan puasa pada bulan Ramadhan, setiap jenis benda yang digunakan dalam kegiatan marpangir dianggap mempunyai kekuatan yang ampuh dan berfungsi untuk menyelamatkan penggunanya dari gangguan-gangguan hawa nafsu selama menjalankan ibadah puasa. Gangguan-gangguan tersebut dipercaya selalu muncul dari makhluk-makhluk jahat yang tidak kelihatan, dan makhluk-makhluk ini dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam hidup mereka. Hal ini mencerminkan nilai-nilai yang merepresentasikan suatu pengharapan keberkahan dan keselamatan bagi yang menggunakannya, serta terhindar dari marabahaya. Agar kegatan ini berjalan sukses, maka unsur pangir harus lengkap.
Adapun manfaat atau kegunaan ramuan pangir atau jeruk purut, Bagian yang digunakan adalah buah dan daun.
INDIKASI
Buah,jeruk purut digunakan untuk mengatasi :
– influenza,
– badan terasa lelah,
– rambut kepala yang bau (mewangikan kulit), serta
– kulit bersisik dan mengelupas.
Daun,jeruk purut digunakan untuk mengatasi :
– badan letih dan lemah sehabis sakit berat.
Contoh penggunaan di masyarakat
Influenza
Potong sebuah jeruk purut masak dan banyak airnya, lalu peras. Seduh air perasannya dengan 60 cc air panas. Minum sekaligus selagi hangat.
Kulit bersisik dan mengelupas
Belah jeruk purut tua menjadi dua bagian. Gosokkan pada kulit yang bersisik, kering, dan mudah mengelupas di kulit kepala atau bagian lain dari tubuh. Lakukan satu kali sehari, malam sebelum tidur.
Mewangikan rambut kepala
Cuci 1 buah jeruk purut masak sampai bersih, lalu parut. Tambahkan 1 sendok makan air bersih, lalu remas dan saring. Gunakan air saringannya untuk menggosok rambut setelah keramas.
Badan lelah setelah bekerja atau letih sehabis sakit berat
Sediakan 2 ge       nggam daun jeruk purut segar. Rebus dalam 3 liter air sampai mendidih (selama 10 menit). Tuangkan ramuan tersebut ke dalam 1 ember air hangat dan gunakan untuk mandi.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
        Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa masih ada masyarakat yang melakukan tradisi ini tiap tahunnya, lebih tepatnya pada setiap sehari sebelum bulan romadhon. Terjadi asimilasi budaya islam karena mandi pangir bertujuan untuk membersihkan atau mensucikan diri sebelum bulan romadhon serta tradisi nenek moyang untuk mandi keramas menggunakan ramuan pangir yang terbuat dari berbagai ramuan campuran buah jeruk pangir atau sering dikenal dengan sebutan jeruk purut.